Waspada Money Game

Krisis moneter pada tahun 1998 mengakibatkan meningkatnya jumlah pengangguran dan mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat secara drastis. Penghasilan tidak rasional lagi dibandingkan pengeluaran yang naik sampai 300% akibat terpuruknya nilai tukar rupiah, ditambah krisis perbankan dalam negeri. Momentum ini digunakan oleh mereka yang jeli melihat peluang untuk mengeruk keuntungan dengan segala cara.
Di Medan misalnya bermunculan perusahaan pengganda uang seperti BMA, New Era, dan lain-lain. Modusnya bermacam-macam; pada umumnya menjanjikan bunga uang yang sangat besar dalam jangka waktu singkat. Misalnya nasabah diwajibkan menyimpan, istilah mereka meng’investasi’kan uang sebesar 2.5 juta rupiah per paket, dalam 2 minggu nasabah akan menerima bunga uang sebesar Rp. 500.000,-. Apabila membawa nasabah baru, maka nasabah yang membawa akan diberikan komisi / penghargaan sebesar Rp. 500.000,-. Bahkan ada yang memberikan hadiah tambahan berupa sekarung beras, atau beberapa kardus mie instant dsb.

Selain iming-iming bonus dan bunga uang yang menarik, masyarakat juga banyak yang yakin dan percaya pada perusahaan pengganda uang tersebut karena jika ditanya bagaimana caranya mereka memutar uang tersebut, para pimpinan atau yang mewakili pimpinan akan memberikan alasan bahwa uang tersebut diputar di luar negeri dalam mata uang dollar, atau bisnis emas dll yang kira-kira cukup masuk akal. Faktor lain yang meyakinkan nasabah adalah banyaknya pejabat setempat yang ikut serta meng investasikan uangnya, bahkan dalam jumlah besar.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, nasabah membludak. Untuk menyetor uang saja harus rela mengantri ber jam-jam. Pada masa itu setiap hari hampir di semua bank terjadi rush, penarikan uang tunai besar-besaran, karena mau di investasikan di perusahaan pengganda uang yang menjanjikan bunga begitu besar dalam jangka waktu singkat.Di bank terjadi antrian panjang nasabah yang menarik uang; di perusahaan pengganda uang juga terjadi antrian panjang nasabah yang akan menyetorkan uang. Panjang antriannya luar biasa. Sampai-sampai untuk mengantripun perlu membayar jasa orang lain untuk berdiri mewakili nasabah dibarisan.

Cerita tentang investasi bunga tinggi, cepat dan ‘aman’ ini menjadi perbincangan hangat dan tidak ada habisnya dimana-mana; di pasar, salon, tempat-tempat arisan, di kantor bahkan di rumah ibadah. Entah ini bagian dari skenario pihak pengganda uang dan jaringannya, atau murni merupakan suatu realita betapa dalam situasi keterpurukan ekonomi, masyarakat tidak dapat lagi berpikir rasional. Tanpa memikirkan lagi faktor resiko, umumnya nasabah setelah mendapatkan sejumlah besar bunga uang, bukannya berhenti ‘berinvestasi’, malah bunga uang yang baru diterima diinvestasikan lagi agar uangnya tambah banyak. Bahkan ada yang sampai menggadaikan tanah, rumah, mobil dan lain-lain untuk mendapatkan uang tunai guna di investasikan.

Nasabah yang sudah pernah mendapatkan pembayaran bunga uang dengan lancar akan membagi pengalaman kepada para kenalan agar ikut meng investasikan uangnya. Awalnya saya masih bisa berpikir rasional dan tetap pada pendirian bahwa kalau mau dapat rejeki harus kerja; uang yang didapat dengan cara sangat mudah tanpa kerja, akan keluar dengan mudah juga untuk hal yang (mungkin) sia-sia. Merasa penasaran karena banyaknya pejabat, pebisnis, aparat pemerintahan bahkan ekonom yang ikut, dan ramainya rekan kerja yang sibuk menyetorkan uangnya, akhirnya saya titip juga uang melalui teman sejumlah yang sudah saya relakan kalau uang itu tidak akan kembali. Belakangan, memang uang saya tidak kembali, karena perusahaan keburu tutup dan pemiliknya kabur. Korbannya sangat banyak, dan pada waktu itu banyak muncul orang stress dan sakit jiwa dijalanan.

Biasanya perusahaan seperti itu tidak bertahan lama. Hanya 2-3 bulan pertama pembayaran lancar sebagai pancingan. Selain pengganda uang, masih banyak lagi muncul ajakan untuk investasi dalam bentuk lain, misalnya investasi budi daya burung unta di Australia, pembangunan perumahan di China, usaha dan perdagangan hasil pertanian di Bogor dan sebagainya yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Selain memasang iklan di media cetak, mereka juga bahkan mengadakan seminar dan pameran untuk meyakinkan calon investor yang umumnya dari kalangan masyarakat golongan ekonomi menengah keatas. Belakangan ternyata para investor ini tertipu juga.

Saat ini, sebagai akibat dari kenaikan harga minyak dunia, negeri ini mulai lagi mengalami krisis ekonomi walaupun (semoga) tidak separah krisis tahun 1998. Bukan tidak mungkin akan kembali bermunculan perusahaan money game atau sejenis. Semoga masyarakat masih bisa berpikir rasional dan tidak mudah tergoda, dengan tetap memegang prinsip bahwa rejeki yang halal adalah rejeki yang didapat dari usaha dan pekerjaan yang halal pula. Istilahnya Tukul di acara empat mata : harus kristalisasi keringat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: