Komponen dalam Rancangan Eko-Kawasan Industri

Meskipun dapat dikatakan masih berupa embrio, ekosistem industri merupakan salah satu pendekatan yang penting dalam menghadapi tantangan dalam mencapai tujuan pembangunan yang ‘berkelanjutan’. Konsep Ekosistem Kawasan Industri (Eco-Industrial Park / EIP) selanjutnya disingkat dengan EIP, pertama kali disosialisasikan secara formal pada tahun 1992-1993 oleh suatu kelompok / komunitas dari Indigo Development – Dalhouse University, dan kelompok / komunitas Work and Environment Initiative dari Cornell University. Pada tahun 1994, Environmental Protection Agency milik pemerintah United States of America membiayai Research Triangle Institute dan Indigo untuk memperdalam konsep ekosistem industri serta melakukan studi kasus. Pada tahun 1996, sebanyak 17 proyek industri mendeklarasikan EIP bagi kegiatan mereka.
Eco-Industrial Park menyertakan jaringan perusahaan dan organisasi yang bekerja bersama-sama untuk meningkatkan ekonomi dan kualitas lingkungan. Beberapa perencana serta peneliti ekosistem kawasan industri telah menggunakan jasa komunitas atau team ‘ekosistem industri’ untuk memberikan gambaran jenis ‘hubungan simbiosis’ yang dikembangkan diantara pelaku dan perusahaan yang turut berpatisipasi.

Komponen dalam Rancangan Eko-Kawasan Industri :

  • Sistem alam :
    meminimumkan dampak negative pada lingkungan, dan memperkecil biaya operasi, serta menggunakan energi matahari dan / atau energi angin
  • Energi :
    Strategi utama adalah penggunaan energi secara efisien untuk mengurangi biaya-biaya serta mengurangi beban lingkungan.
  • Alir material :
    Dalam Eko-Kawasan Industri, pihak perusahaan memandang limbah sebagai sesuatu produk yang berharga yang dapat dijual untuk digunakan oleh pihak lain.
  • Aliran air :
    Air yang telah melalui suatu proses dapat digunakan kembali oleh pihak lain, yang dialirkan melalui suatu tahapan proses sesuai keperluan. Infrastruktur kawasan dapat dirancang untuk beberapa tingkatan / grade air (bergantung pada kebutuhan perusahaan).
  • Pengelolaan Kawasan dan Dukungan Layanan :
    Pengelolaan harus mendukung pertukaran produk antar perusahaan di kawasan, mendukung perusahaan dalam beradaptasi dengan lingkungan beragam industri (misalnya mobilitas supplier atau pelanggan di areal kawasan). Layanan lain juga menyangkut pemeliharaan akses / link pertukaran produk antar perusahaan di kawasan serta pemeliharaan sistem telekomunikasi. Disamping itu, dapat diadakan dukungan layanan bersama berupa pusat pelatihan, kantin, pusat kesehatan, kantor untuk pembelian barang-barang umum, transportasi, kantor logistic dll.

Keuntungan dari Ekosistem Kawasan Industri
Dengan adanya kerjasama antar pelaku indutri dalam Eko-Kawasan Industri, maka terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh, yaitu :

  • Keuntungan keuangan untuk perusahaan :
    – Menurunkan biaya pembelian bahan / material, mendapatkan hasil dari penjualan limbah kepada pihak lain dalam kawasan
    – Menurunkan penggunaan energi (misalnya transportasi)
    – Menurunnya biaya pengelolaan limbah karena dilakukan didalam kawasan (dapat dijual, dan membeli limbah dari perusahaan lain di kawasan)
    – Menurunnya biaya serba-serbi
    – Menurunnya biaya HRD atau perekrutan pegawai karena dilakukan bersama-sama dengan perusahaan lain dalam kawasan
  • Keuntungan bagi lingkungan :
    – Permintaan akan sumber daya alam akan berkurang
    – Berkurangnya jumlah limbah dalam semua bentuk (padat, cair, emisi udara)
    – Menurunnya kemungkinan terjadi kecelakaan dalam transport
    – Keuntungan sosial / bagi masyarakat :
    – Meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat dengan adanya pekerjaan
    – Biaya pemanasan murah untuk masyarakat lingkungan sekitar kawasan dan didalam kawasan
    – Udara dan air yang lebih bersih, sehingga masyarakat sekitar dapat hidup sehat

Subsistem industri dan induk ekosistem akan saling menguntungkan bagi seluruh pelaku lingkungan industri.
Riset yang dilakukan para peneliti dari Cornell University – USA dan Jepang memperkirakan bahwa untuk kawasan industri yang ingin menerapkan prinsip ekosistem didalam kawasan industri, tetapi di dalam kawasan tersebut teidak terdapat link/hubungan yang sesuai dalam konteks simbiosis, maka masih terdapat peluang sebesar 30% penghematan apabila diupayakan menerapkan ekosistem di kawasan.

Ekologi Industri Simbiosis Industri
Klasifikasi dalam Ekosistem Industri

Ekosistem Kawasan Industri
Komponen dalam Rancangan Eko-Kawasan Industri
Kawasan Industri Kalundborg Denmark
Kendala dan Tantangan dalam Penerapan Ekosistem Kawasan Industri

Reference :

1. Baas, L.W and F.A. Boons. An Industrial Ecology Project in Practice : Exploring the Boundaries of Decision Making Levels in Regional Industrial Sistems. Journal of Cleaner Production vol. 12 page 1099-1110 Science Direct, Elsevier, 2004

2. Brown, Michael S. : Field of Dreams : Sustainability in Industri. International Society for Industrial Ecology (ISEI) News vol. 6 Issue 4 (December 2006)

3. Chertow, M. Industrial Ecology last updates : 27 February 2008. Dapat diakses dari http://www.mitpressjournals.org/jie Akses terakhir 30 Mei 2008

4. Chertow, M. Uncovering Industrial Symbiosis, Journal of Industrial Ecology vol. 11 no. 1 pg 11-30 MIT and Yale University, 2007

5. 5. Industrial EcologyWikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/Industrial_ecology

6. Korhonen, J. Some Suggestions for Regional Industrial Ecosistems – Extended Industrial Ecology. Eco Management and Auditing 8, pg 57-69, John Wiley & Sons, Ltd. And ERP Environment, 2001

7. Lambert, A.J.D and F.A. Boons. Eco-Industrial Parks : Stimulating Sustainable Development in Mixed Industrial Park, Technovation 22, pg 471 – 484 Science Direct, Elsevier, 2002

8. Eco-Industrial Park : A Foundation for Sustainable Communities, A Lecture Notes, Indigo Department, 2008

9. Mc. Donough, W., and Michael. B, The Next Industrial Revolution.Dapat diakses dari

http://www.theatlantic.com/doc/by/william_mcdonough_and_michael_braungarrt . Akses terakhir 28 Mei 2008

10. Peck, Steven W. Industrial Ecology : From Theory To Practice dapat diakses dari http://newcity.ca/Pages/industrial_ecology.html akses terakhir 31 Mei 2008

11. Pongracz, E. Industrial Ecology and Waste Management : From Theories to Applications, Progress in Industrial Ecology – An International Journal, vol 3 Nos.1/2, 2006

12. Port of Portland : Industrial Property and Land, http://www.portofportland.com/Prop_Home.aspx .

13. The Industrial Symbiosis at Kalundborg Denmark http://www.indigodev.com/Kal.html .

14. Tibbs, H. Industrial Ecology: An Environmental Agenda for Industri, dapat diakses dari http://www.sustainable.doe.gov/articles/indexs/shtml Akses terakhir 2 Juni 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: