Simbiosis Industri

Simbiosis industri secara tradisional memisahkan antara industri dalam pendekatan secara kolektif dengan keuntungan kompetitif yang melibatkan pertukaran material, energi, air dan/atau antar produk. Simbiosis industri terdiri dari pertukaran antar entitas yang berbeda yang menghasilkan keuntungan kolektif yang lebih besar dibandingkan keuntungan yang diperoleh dari kegiatan tunggal. Kolaborasi ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat (social capital) yang berpartisipasi. Simbiosis itu sendiri tidak harus berada di dalam batasan kompleks kawasan industri, sebaliknya menggambarkan semua organisasi yang terlibat dalam pertukaran. Kunci dari simbiosis industri adalah kolaborasi dan semua kemungkinan sinergis yang dimungkinkan dalam suatu areal kawasan industri.
Secara bersamaan, perhatian juga mulai dikembangkan pada simbiosis industri dan kawasan eko-industri, sejumlah kawasan eko-industri lain yang mungkin terbentuk secara lebih luas, yang merupakan pembangunan hijau (green development). Termasuk didalamnya pemukiman, perniagaan, dan pembangunan komunitas yang ditangkap dalam terminology semisal arsitektur berkelanjutan, bangunan hijau, komunitas berkelanjutan dan pertumbuhan cerdas (smart growth). Pembangunan eko-industri atau pembangunan industri yang berkelanjutan mempersempit kemungkinan dominasi industri dan aktifitas komersial; tetapi meningkatkan pertanian. Kerjasama bisnis yang melibatkan pertukaran material/ bahan/ air/ energi atau sharing komponen meningkatkan kualitas kegiatan sebagai simbiosis industri.
Terdapat 3 peluang utama untuk saling-tukar sumber daya [4]:
Penggunaan ulang produk – pertukaran material khusus perusahaan antara dua atau lebih perusahaan / kelompok untuk digunakan sebagai substitusi untuk produk komersil atau bahan baku. Saling tukar komponen material juga merujuk kepada pertukaran sebagian produk, sinergi, atau pertukaran limbah dan dapat juga sebagai jaringan daur ulang industri, yaitu :

  1. Penggunaan bersama (sharing) utilitas/infrastruktur – penggunaan tempat mencuci alat2 dan pengelolaan sumber daya yang umum seperti energi, air dan limbah cair.
  2. Penggabungan pengadaan jasa / service – menghasilkan kebutuhan umum perusahaan untuk aktifitas yang lebih kecil misalnya transportasi, supply makanan dan pencegahan kebakaran.

Pemahaman tentang jaringan eko-industri dapat juga menjadi luas sebagai daerah lingkungan dan aktifitas ekonomi diantara kegiatan bisnis. Hanya sebagai kluster ekonomi yang berupa kelompok dalam sektor bisnis yang sama yang berhubungan dengan produk yang dihasilkan dan digunakan misalnya kelompok bisnis furniture – disebut juga eco-industrial-cluster- adakalanya digunakan untuk menggambarkan interaksi antara perusahaan dalam industri yang sejenis.
Meskipun pertukaran material dan energi telah secara signifikan telah menjadi bagian dari aktifitas industri selama berabad-abad, tetapi focus pada atribut lingkungan masih merupakan hal yang baru. Dalam artikelnya mengenai ekologi industri, Frosch dan Gallopoulos (1989) memberikan gambaran ‘ekosistem industri’ dimana ‘konsumsi energi dan material di optimalkan dan hasil dari suatu proses dapat merupakan bahan baku bagi proses lain” Sebagian orang memandang dari sisi metapora ekosistem, yang memandang aktifitas industri sebagai jejaring makanan (food web) dan menginterpretasikan peranan dari beragam penggalan dan bisnis refabrikasi sebagai komponen pengguna / pihak yang memanfaatkan.(scavengers dan decomposers) dari sistem.
Salah satu pendekatan untuk menghasilkan tingkat yang lebih tinggi mengenai efisiensi penggunaan bahan baku dan sumber energi adalah dengan menyertakan konsep ekologi pada dunia industri. Ekologi industri merujuk kepada pertukaran / saling bertukar antara sektor industri dimana pembuangan dari satu industri menjadi sumber bahan baku dari industri lainnya. Sebagai contoh : uap panas yang dihasilkan dari pembangkit tenaga listrik dapat digunakan sebagai sumber panas untuk pabrik bahan kimia disekitarnya. Debu terbang dari pembakaran batu bara pada stasiun pembangkit dapat digunakan sebagai bahan untuk industri semen.
Ekosistem alam tidak menghasilkan ‘sisa’ atau ‘limbah’, karena ‘limbah’ dari suatu organisme merupakan makanan bagi organisme lainnya. Sistem alam tidak menghasilkan kandungan persitensi toxic yang tidak dapat dimanfaatkan organisme lain dalam sistem. Hipotesisnya adalah dalam memfungsikan efisiensi ekonomi yang harmonis dengan ekosistem, tidak akan ada limbah atau sisa yang tidak terpakai.Ekologi industri melibatkan antara lain analisis siklus, lingkaran suatu proses, pemanfaatan kembali (reusing) dan daur ulang (recycling), rancangan untuk lingkungan dan pertukaran / saling menukar ‘sisa’ atau ‘limbah’ (waste exchange). Sedangkan teknologi dan proses yang memaksimumkan efisiensi ekonomi dan lingkungan merupakan eco-efisien’


Pada eco-industri berlaku 4 ciri yang analog dengan ciri dalam ekosistem, yaitu adanya siklus material, keragaman, kawasan, serta perubahan secara perlahan-lahan.

  • Siklus material dan bahan baku
    Dalam ekosistem, limbah/sisa dari suatu organisme merupakan makanan bagi organisme lain; daur ulang terjadi dan energi mengalir dalam rantai makanan. Analog dalam sistem industri, terdapat rantai operasi dalam arah keseluruhan, misalnya dari bahan mentah diproses, kemudian menghasilkan produk, selanjutnya proses produksi menhasilkan limbah / sisa. Tujuan utama dalam ekologi industri selanjutnya adalah mempelajari rantai ‘bahan’ atau ‘material’ bagi suatu produk, untuk menghasilkan tingkat ketergantungan yang besar pada material sisa / limbah yang dapat di daur ulang dan pengaliran energi pada setiap tahapan; yaitu mengadopsi sistem industri atau subsistem industri kedalam suatu ekosistem.
  • Keragaman
    Biodiversity atau keragaman species, baik itu dalam konteks organisme, informasi, dan semua komponen dalam ekosistem yang mempunyai ketergantungan atau kerjasama satu sama lain merupakan faktor penting dalam keberlanjutan dan ketahahan ekosistem.
    Dalam ekosistem industri, keragaman dapat dipahami sebagai keragaman pelaku atau keragaman dalam kebergantungan, dan dalam kerjasama dalam suatu industri. Pemanfaatan limbah kemungkinan terjadi jika terdapat kerjasama antara beberapa pelaku, misalnya inter perusahaan dan antar industri.
    Keragaman metafora dalam masalah produk output dari aktivitas industri dapat juga menguntungkan jenis kegiatan ekologi industri. Dalam ekosistem industri, untuk memampukan kerjasama beragam yang berdasarkan pemanfaatan material dan aliran energi antar pelaku yang terlibat, keragaman output dapat berarti bahwa limbah dari suatu perusahaan, misalnya limbah energi atau panas dari tanaman, dipahami sebagai produk yang bernilai. Disini supply output dipahami dari berbagai sudut pandang, sehingga limbah diinterpretasikan sebagai sesuatu yang berharga dan dapat dimanfaatkan, daripada dibuang ke udara atau ke air.
  • Kawasan
    Ekosistem global harus mempertimbangkan factor keterbatasan alam suatu kawasan. Dalam ekosistem, suatu organisme harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan ‘bekerjasama’ dengan organisme lain dalam kawasannya. Dalam industri, bahan baku bisa di import dari daerah lain, bahkan dari negara lain. Ekosistem kawasan industri dengan usaha mengurangi bahan dasar / virgin material dan input energi, demikian juga dengan output limbah dan emisi dari sistem kawasan industri, adalah visi yang dijalankan untuk mengontrol atau mengurangi Footprint Ekologi kawasan (Wackenagel dan Rees, 1997 dalam [10]). Kawasan dalam pengembangan sistem ekologi industri adalah pemanfaatan material dan sumber energi, limbah dan energi kawasan, menghargai factor keterbatasan alam kawasan dengan mengontrol skala beban aktifitas industri pada lingkungan, dan merupakan kegiatan kerjasama antara para pelaku dalam areal yang berdekatan satu sama lain.
  • Perubahan secara perlahan-lahan / gradual change
    Proses alam dicirikan oleh perubahan secara perlahan-lahan. Misalnya, generasi dan regenerasi minyak bumi dan air tanah berlangsung setelah ratusan bahkan ribuan tahun. Demikian juga dengan evolusi biologi dan genetic terjadi secara perlahan. Kenyataan bahwa evolusi industri terjadi lebih cepat maka media penyimpan informasi seperti budaya, buku, film, internet, cellular phone dan advertisement dinyatakan sebagai factor yang mempercepat kerusakan lingkungan. Sebagai contoh, bahan mentah diperlukan untuk memproduksi suatu produk dimana permintaan berkembang pesat, dapat menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan dalam konteks masa tersedianya bahan baku. Tambahan pula, alam bergantung pada aliran sumber yang dapat diperbaharui (renewable flow resource), misalnya energi matahari, sementara kegiatan industri berdasarkan pada cadangan alam yang tak terbaharui (non renewable), misalnya dari fosil sehingga tidak mempetimbangkan waktu reproduksi / renewable sumber daya alam yang terjadi secara sangat perlahan-lahan.

Metafora perubahan perlahan-lahan dapat membantu kita dalam memahami ekosistem kawasan industri. Setiap sistem industri, misalnya sistem kawasan industri merupakan sistem yang unik. Ekonomi, social, budaya dan dimensi ekologi termasuk dalam keragaman sistem. Perubahan keragaman sistem dan peningkatan kebergantungan pada sumber yang dapat diperbaharui / renewable source, material sisa, limbah dan energi, jika dapat bergerak perlahan mengikuti waktu / masa siklus alam, akan mengurangi beban lingkungan.
Hardin Tibbs dalam artikelnya yang berjudul “Industrial Ecology : An Agenda for Industry” menekankan 6 komponen prinsip dalam ekologi industri, yaitu :

  1. Ekosistem Industri : merupakan kerjasama antara beragam industri dimana limbah darisuatu industri merupakan bahan material bagi industri lainnya
  2. Keseimbangan input dan output industri yang mengacu pada keterbatasan system alam.
  3. Pengurangan intensitas material dan energi dalam produksi
  4. Peningkatan efisiensi dalam proses industri
  5. Pengembangan supply energi yang dapat diperbaharui untuk keperluan industri
  6. Adopsi kebijaksanaan baru, baik kebijakan nasional maupun internasional dalam pengembangan ekonomi.

Simbiosis industri mempekerjasamakan antar banyak komponen yang penekanannya pada siklus dan penggunaan ulang dari material dalam perpektif sistem yang lebih luas. Komponen ini termasuk energi dan material yang solid, perpective siklus hidup, pengaliran, lingkaran tertutup dari aliran-aliran material. Masing-masing pertukaran dikembangkan sebagai pengelolaan bisnis yang menarik secara ekonomi antara perusahaan yang berpartisipasi melalui kontrak bilateral. Hal ini menunjukkan bahwa simbiosis tidak bergantung pada proses perencanaan dan secara kontinu akan berkembang. Regulasi / kebijakan berperan secara tidak langsung selama bertahun-tahun.

Sumber daya digunakan untuk menghasilkan material, transportasi, pabrikasi primer dan sekunder serta distribusi. Jumlah total energi dan material yang digunakan adalah yang bersatu dalam produk. Dengan menggunakan ulang (reusing) bagian dari produk, simbiosis industri dapat menjaga kelangsungan material dan energi yang bersatu itu, untuk jangka waktu yang lebih panjang didalam sistem industri. Misalnya menggunakan energi panas yang terbuang untuk menghasilkan energi listrik; atau menggunakan uap dari pembangkit listrik tenaga uap sebagai sumber panas.

Simbiosis Industri, yaitu hubungan antar utilitas, produk sisa dan/atau limbah penggunaan bahan dan energi eksternal, serta diagram alir input, proses dan output dalam suatu kawasan industri dapat dilihat pada gambar berikut :

Ekologi Industri Simbiosis Industri
Klasifikasi dalam Ekosistem Industri

Ekosistem Kawasan Industri
Komponen dalam Rancangan Eko-Kawasan Industri
Kawasan Industri Kalundborg Denmark
Kendala dan Tantangan dalam Penerapan Ekosistem Kawasan Industri

Reference :

1. Baas, L.W and F.A. Boons. An Industrial Ecology Project in Practice : Exploring the Boundaries of Decision Making Levels in Regional Industrial Sistems. Journal of Cleaner Production vol. 12 page 1099-1110 Science Direct, Elsevier, 2004

2. Brown, Michael S. : Field of Dreams : Sustainability in Industri. International Society for Industrial Ecology (ISEI) News vol. 6 Issue 4 (December 2006)

3. Chertow, M. Industrial Ecology last updates : 27 February 2008. Dapat diakses dari http://www.mitpressjournals.org/jie Akses terakhir 30 Mei 2008

4. Chertow, M. Uncovering Industrial Symbiosis, Journal of Industrial Ecology vol. 11 no. 1 pg 11-30 MIT and Yale University, 2007

5. 5. Industrial EcologyWikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/Industrial_ecology

6. Korhonen, J. Some Suggestions for Regional Industrial Ecosistems – Extended Industrial Ecology. Eco Management and Auditing 8, pg 57-69, John Wiley & Sons, Ltd. And ERP Environment, 2001

7. Lambert, A.J.D and F.A. Boons. Eco-Industrial Parks : Stimulating Sustainable Development in Mixed Industrial Park, Technovation 22, pg 471 – 484 Science Direct, Elsevier, 2002

8. Eco-Industrial Park : A Foundation for Sustainable Communities, A Lecture Notes, Indigo Department, 2008

9. Mc. Donough, W., and Michael. B, The Next Industrial Revolution.Dapat diakses dari

http://www.theatlantic.com/doc/by/william_mcdonough_and_michael_braungarrt . Akses terakhir 28 Mei 2008

10. Peck, Steven W. Industrial Ecology : From Theory To Practice dapat diakses dari http://newcity.ca/Pages/industrial_ecology.html akses terakhir 31 Mei 2008

11. Pongracz, E. Industrial Ecology and Waste Management : From Theories to Applications, Progress in Industrial Ecology – An International Journal, vol 3 Nos.1/2, 2006

12. Port of Portland : Industrial Property and Land, http://www.portofportland.com/Prop_Home.aspx .

13. The Industrial Symbiosis at Kalundborg Denmark http://www.indigodev.com/Kal.html .

14. Tibbs, H. Industrial Ecology: An Environmental Agenda for Industri, dapat diakses dari http://www.sustainable.doe.gov/articles/indexs/shtml Akses terakhir 2 Juni 2008

Iklan

2 Tanggapan

  1. halo ibu esther 🙂 salam sejahtera
    perkenalkan saya risma mahasiswi yg sedang melakukan tugas akhir penelitian mengenai eco-industrial park.
    sejauh saya membaca tulisan-tulisan ibu sangat banyak informasi yg saya dapatkan serta berkaitan dg bahasan penelitian saya.
    maaf ibu, jikalau boleh share, saya sedang mencari teori2 yg berkenaan dg eco-industrial park. mungkin ibu ada referensi literatur yg bisa dishare? terimakasih sebelumnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: