Terminal Kedatangan Polonia

Sudah pernah ke Medan pakai pesawat dan mendarat di Polonia, tiba di terminal kedatangan luar negeri ataupun kedatangan dalam negeri? Apa kesan pertama ketika turun dari pesawat dan memasuki ruang pengambilan bagasi? Yup !! Disambut oleh puluhan portir bandara. Minggu lalu, tepatnya tgl 5 Agustus 2008 hal ini masih saya alami. Semua menawarkan jasa untuk mengambilkan bagasi. Jarak antara ruang ambil bagasi menuju pintu keluar itu tidak lebih dari 10 meter. Lalu untuk apa pakai jasa portir? Bagi yang bagasinya banyak, tentunya jasa portir sangat menolong. Tapi bagi yang bagasinya cuma 1-2 potong tentunya gak perlu ‘kan? Yang diperlukan mungkin adalah trolley. Trolley … ?? Semua dikuasai oleh portir. Tidak ada trolley tersisa untuk penumpang yang akan mengambil bagasi. Dengan kata lain, penumpang yang memerlukan trolley ‘dipaksa’ atau ‘terpaksa’ menggunakan jasa portir. Tidak pakai jasa portir juga nggak masalah, bukankah koper dan travel bag umumnya dilengkapi roda? dan jarak dari tempat ambil bagasi ke pintu keluar paling jauh 10 meter. Kalaupun pakai jasa portir, hitung-hitung bantuin portir ajalah. Ironisnya, trolley banyak yang kosong ditangan para portir karena banyak juga penumpang yang menggerek sendiri koper nya tanpa trolley.

What next ?! Begitu keluar dari pintu, anda akan disambut oleh padatnya barisan pengemudi taksi. Keluar pintu, mau jalan kekiri, atau ke kanan, sama saja. Para pengemudi taksi membentuk barisan sambil menjulurkan kepala kearah penumpang yang baru keluar sambil masing2 menawarkan jasa taksi. Meskipun kita sudah bilang ‘tidak’, tetap aja mereka teriak2 sambil menghalang2i jalan, bahkan beberapa berusaha menarik koper kita seolah2 kita akan naik taksinya Suatu ketika, saya pulang dari luar kota dan kebetulan tidak dijemput, saya berniat pulang pakai taksi. Saya meng”iya”kan salah satu pengemudi taksi yang mendatangi saya. Apa yang terjadi? Beberapa pengemudi taksi lainnya datang juga mengerubuti saya, minta agar saya memilih naik taksinya. Diperlukan kesabaran dan pe”maklum”an ekstra agar tidak naik tensi menghadapinya.
Kenapa tidak pakai sistem antrian, biar tertib dan tidak berebutan? Hmm…, pasti banyak taksi yang nggak kebagian bawa penumpang. Jumlah penumpang yang menggunakan jasa taksi tidak sebanding dengan banyaknya armada taksi yang tersedia di Polonia. Penumpang banyak yang dijemput oleh kenalan atau keluarga, sedangkan yang tidak dijemput dan rumahnya jauh, dapat jalan sedikit saja keluar bandara, kira-kira 500 meter sudah sampai di jalan protokol dan bisa naik angkutan umum.

Bagaimana dengan program departemen pariwisata “Visit Indonesia Year”? Apakah hal-hal seperti ini memang terlalu kecil untuk perlu dibenahi? Padahal kota Medan merupakan salah satu pintu gerbang masuk ke Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: