Kendala dan Tantangan Dalam Penerapan Ekosistem Kawasan Industri

Pada abad-21, eko-industri dan pengembangan teknologi yang mengeliminasi ‘sisa’ atau ‘limbah’ dan memaksimumkan efisiensi akan mengalami masa kritis dalam usaha pengurangan pemakaian material dan energi serta memelihara kualitas hidup dan kualitas lingkungan. Perluasan eco-kawasan industri dengan mengembangkan eco-economi adalah eco-efisien, merupakan faktor yang menentukan apakah tekanan pasar akan berperan penting sebagai ‘penggerak perubahan (driver of change). Baca lebih lanjut

Iklan

Kawasan Industri Kalundborg-Denmark

Kawasan Industri Kalundborg – Denmark
Negara yang pertama menerapkan prinsip-prinsip ekosistem industri dalam suatu Kawasan Industri adalah di kawasan Kalundborg Denmark. Pertukaran (exchange) ‘limbah’ antar industri independen dalam suatu sektor telah berlangsung berabad-abad untuk alasan sederhana yaitu untuk tujuan bisnis yang lebih baik. Akan tetapi pembentukan ‘ekosistem industri’ masih merupakan fenomena yang relative baru. Sebagai contoh di kawasan industri Kalundborg Denmark, ekosistem industri sudah dibentuk, yang antara lain melibatkan pabrik minyak, pabrik gyp, farmasi, peternakan ikan, stasiun pembangkit tenaga batubara dan kota komunitas Kalundborg.

Baca lebih lanjut

Komponen dalam Rancangan Eko-Kawasan Industri

Meskipun dapat dikatakan masih berupa embrio, ekosistem industri merupakan salah satu pendekatan yang penting dalam menghadapi tantangan dalam mencapai tujuan pembangunan yang ‘berkelanjutan’. Konsep Ekosistem Kawasan Industri (Eco-Industrial Park / EIP) selanjutnya disingkat dengan EIP, pertama kali disosialisasikan secara formal pada tahun 1992-1993 oleh suatu kelompok / komunitas dari Indigo Development – Dalhouse University, dan kelompok / komunitas Work and Environment Initiative dari Cornell University. Pada tahun 1994, Environmental Protection Agency milik pemerintah United States of America membiayai Research Triangle Institute dan Indigo untuk memperdalam konsep Baca lebih lanjut

Klasifikasi dalam Ekosistem Industri

Ekosistem Industri dapat diklasifikasikan atas beberapa skala, dari terkecil hingga besar, dan dapat dipandang dari berbagai perspektif :

  • Skala terkecil adalah ekosistem didalam satu industri / industri tunggal dimana komponen-komponennya dapat berupa pelaku bisnis industri, mulai dari produsen, distributor, supplier hingga konsumen. Dari sisi proses produksi, komponen dapat berupa tahapan produksi, mulai dari bahan baku mentah, produk yang dihasilkan, limbah dari proses produksi, hingga penggunaan limbah sebagai bahan baku untuk menghasilkan suatu produk lain. Dalam hal ini satu perusahaan dapat memproduksi lebih dari satu jenis produk, dimana limbah dari suatu produk dapat digunakan sebagai bahan baku atau bahan tambahan untuk produk lainnya.

Baca lebih lanjut

Simbiosis Industri

Simbiosis industri secara tradisional memisahkan antara industri dalam pendekatan secara kolektif dengan keuntungan kompetitif yang melibatkan pertukaran material, energi, air dan/atau antar produk. Simbiosis industri terdiri dari pertukaran antar entitas yang berbeda yang menghasilkan keuntungan kolektif yang lebih besar dibandingkan keuntungan yang diperoleh dari kegiatan tunggal. Kolaborasi ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat (social capital) yang berpartisipasi. Simbiosis itu sendiri tidak harus berada di dalam batasan kompleks kawasan industri, sebaliknya menggambarkan semua organisasi yang terlibat dalam pertukaran. Kunci dari simbiosis industri adalah kolaborasi dan semua kemungkinan sinergis yang dimungkinkan dalam suatu areal kawasan industri. Baca lebih lanjut

Ekologi Industri

Ekologi Industri adalah bidang ilmu yang difokuskan pada dua tujuan yaitu peningkatan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan. Pada konsep ekologi industri, sistem industri dipandang bukan sebagai suatu sistem yang terisolasi dari sistem dan lingkungan disekelilingnya, melainkan merupakan satu kesatuan. Didalam sistem ini dioptimalkan siklus material, dari mulai bahan mentah hingga menjadi bahan jadi, komponen, produksi dan pembuangan akhir. Faktor-faktor yang dioptimalkan termasuk sumber daya, energi dan modal.

Baca lebih lanjut

Ekosistem Kawasan Industri

Seiring dengan semakin pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kebutuhan masyarakat akan konsumsi barang dan jasa semakin meningkat. Meningkatnya kebutuhan akan barang dan jasa berakibat meningkatnya kebutuhan akan bahan baku, material dan energi, sementara ketersediaan bahan baku, material dan energi semakin lama semakin berkurang. Oleh sebab itu diperlukan suatu kebijakan mengenai ‘keberlanjutan’ atau sustainability, yaitu bahwa pertumbuhan konsumsi barang dan jasa harus disertai pengurangan intensitas konsumsi bahan baku dan energi secara proporsional. Baca lebih lanjut